alungblogadress.blogspot.com
Kiprah Sang Mahasiswa di Kaki Gunung Ebulobo,
Desa Selalejo
Selalejo,
adalah keluargaku
Kita adalah
keluarga ketika kita saling mengenal
Hy guys, terima
kasih dan selamat datang di blog saya mari membaca dan dapatkan ilmunya. Semoga
terhibur. Selamat Membaca*
Mahasiswa
dalam pandangan dunia menjadi pion penggerak yang dapat memberikan dampak
perubahan (agent of change). Alasan kuat atas pandangan tersebut karena
mahasiswa merupakan manusia terdidik dan mempunyai pengetahuan yang
banyak. Mahasiswa kini telah dipercaya
dan diyakini oleh sebagian masyarakat sebagai yang maha tahu dalam segala aspek
kehidupan baik ekonomi, sosial, dan pendidikan.
Kekuatan
mahasiswa bersumber dari Tri Dharma Perguruan Tinggi yang diamanatkan dalam Perguruan
tinggi yaitu pendidikan, penelitian, dan
pengabdian. Dari ketiga poin tersebut yang menjadi sorotan dan menjadi pengaruh terbesar terhadap kualitas dan nilai
universitas ditengah masyarakat adalah pengabdian. Mengapa demikian? Karena pengabdian
melibatkan mahasiswa berada ditengah masyarakat, bekerja, dan membawa
pengetahuan.
Julukan
mahasiswa sebagai duta perubahan sangatlah miris apabila tidak ada bukti dan
kerja nyata seorang mahasiswa terhadap masyarakat. Mahasiswa telah dibekali
banyak ilmu, dimana ilmu tersebut harus ditransfer kepada masyarakat dengan
berbagai program yang merupakan ide dari mahasiswa itu sendiri.
Universitas
Flores merupakan Universitas pertama yang ada didaratan Flores yang berdiri pada tahun 1980.
Universitas Flores (Uniflor) memiliki 8 fakultas dan 16 program studi. Salah
satu program studi di Uniflor adalah Program Studi Pendidikan Fisika. Program Studi pendidikan Fisika telah
melaksanakan Tri Dharma perguruan tinggi salah satunya adalah pengabdian kepada
masyarakat pada waktu yang telah berlalu
pada tanggal 27 November 2019 sampai 02 Desember 2019 di kampung pusu, desa
Selalejo, kecamatan Mauponggo, kabupaten Nagekeo. Kegiatan pengabdian
masyarakat ini dikemas dengan nama Kemah Kerja Ilmiah Mahasiswa (KKIM) yang
menjadikan mahasiswa sebagai fasilitator menggerakan masyarakat kepada
perubahan. Menggerakan masyarakat bukan hanya dari mahasiswa itu sendiri melainkan
melalui mahasiswa juga menghadirkan ahli/tokoh bicara dalam bidangnya
masing-masing termasuk dosen program studi pendidikan fisika.
Desa
Selalejo adalah tempat tujuan mahasiswa pendidikan fisika dalam melakukan
kegiatan KKIM (Rabu, 27/11/2019) yang melibatkan 80 orang mahasiswa pendidikan
Fisika semester I, semester II, semester III, semester V, dan semester IX
bersama dengan ketua program studi bapak Adrianus
Nasar, S.Si.,M.Pd.Si, para dosen diantaranya bapak Richardo Barry Astro,
S.Pd.,M.Si.P, Bapak Hamsa Doa, S.Pd.,M.Pd, Bapak Yulius Saprianus Dala Ngapa,
S.Si.,M.Si, seorang pegawai program studi pendidikan fisika bapak Paulus Wangga
dan dua security.
Kegiatan KKIM ini tentu telah direncana
oleh panitia KKIM sedemikian rupa sejak 3 minggu sebelum kegiatan ini
berlangsung diantaranya membuat permohonan kepada pihak desa, melakukan usaha
gali dana, mempersiapkan perlengkapan seminar, mempersiapkan media pembelajaran
fisika dan pelengkapan pelatihan pengolahan makanan lokal dan masih banyak
lagi.
Kegiatan ini berlangsung selama 6 hari
sejak tanggal 27 November 2019 sampai tanggal 02 Desember 2019. Penulis akan
menceritakan 6 kiprah mahasiswa uniflor di kaki gunung Ebulobo di Desa
Selalejo.
1. Hari pertama “keberangkatan”
Pada
tanggal 27 November 2019, mahasiswa pendidikan fisika, para dosen, pegawai,
securiry, ketua program studi, dan dekan mengikuti acara pelepasan dan peresmian
KKIM yang diresmikan oleh Dekan FKIP bapak Tomi Roe. Setelah itu kami berangkat
dari Universitas Flores pukul 09.00 WITA. Dalam perjalanan yang paling
menyenangkan adalah musik DJ Diki Dang. Meskipun pusing tetapi tetap terhibur.
Sampai di Desa Selalejo sekitar pukul 13.00 WITA dan disambut derasnya air
hujan dan ditemani oleh hangatnya kopi Selalejo. Sehabis minum kopi kami dipersilahkan
makan siang dengan menu ala Mayang. Setelah makan, minum dan istirahat sebentar
di rumah bapak Kepala Desa, diadakannya pembagian tempat penginapan yang dibagi
disetiap RT yang dibacakan oleh Ibu koordinator seksi acara. Kami pun diantar
oleh masyarakat setempat menuju rumah yang telah disiapkan untuk kami tempati
kurang lebih satu minggu.
2. Hari
kedua “seminar sehari masyarakat”
Pada
hari yang kedua, kegiatan seminar sehari untuk masyarakat desa Selalejo. Pada
seminar dengan tema “Mewujudkan Desa yang Mampu Membangun
Kesejahteraan dan Perekonomian Masyarakat” kami menghadirkan dua
orang pemateri yaitu dari dinas pertanian bapak Yosep Weku dan juga dari dosen
program studi Pendidikan Fisika bapak Aloisius
Harso, S.Si.,M.Pd tentang Sains dan Lingkungan.
Materi dari dinas pertanian tentang
pemberatasan hama pada tumbuhan Kakao, kopi, dan cengkeh. Sedangkan materi
sains dan Lingkungan menegaskan bahwa sains merupakan cara berpikir untuk
menghadapi segala masalah, dimana sains berperan sebagai penyaring dan penelaah.
Sains juga dapat menghasilkan berbagai teknologi seperti Hp, televisi, makanan
instan dan lain-lain yang akan berdampak pada lingkungan. Dampak itu seperti
sampah, hoax, kemudahan dan lainnya yang bernilai positif dan juga negatif yang
hidup dan di konsumsi oleh masyarakat. Oleh karena masyarakat dituntut untuk
mampu bersikap sains agar dapat mengendalikan perkembangan teknologi serta
menjaga lingkungan.
3. Hari
ketiga “seminar di sekolah, pameran media pembelajaran fisika, pelatihan
pengolahan makanan lokal”
Pada hari ini (29/11/19), kami
segenap mahasiswa program studi pendidikan fisika terlibat aktif dalam kegiatan
KKIM bersama para dosen melakukan seminar di sekolah, pameran media
pembelajaran fisika, dan pelatihan pengolahan makanan lokal.
Seminar yang diselenggarakan di sekolah
SMPN Satap Mauponggo dengan tema “Mewujudkan
Generasi Sehat dan Cerdas dalam Pergaulan dan Teknologi”. Materi yang
dipaparkan adalah pengolahan sampah oleh pa Yulius, Dampak Penggunaan teknologi, Khususnya
Hand Phone oleh pa Bary, dan
pergaulan bebas oleh pa Hamsa yang dihadiri oleh peserta seminar SMP kelas IX.
Dalam
waktu yang bersamaan tim akademik turun
ke sekolah juga melakukan pameran media pembelajaran fisika kepada siswa SMP
kelas VIII, kelas VII, dan siswa SDK Pusu dan SDN Wolotoba kelas VI. Alat peraga
atau media yang di pamerkan adalah siklus air, gerhana bulan, gunung meletus,
lift hidrolik sederhana, mobil mainan bertenaga udara, meniup balon dengan cuka,
gaya gesek, tekanan hidrostatis, mengukur tegangan menggunakan multimeter,sistem
tata surya, dan bom air.
Dalam
ruang yang berbeda ada sang koki, Mayang sari memberikan pelatihan pengolahan
makanan lokal yaitu ubi talas kepada masyarakat selejo yang dihadiri para ibu
dari desa Selejo.
4. Hari
keempat “bakti sosial dan pentas seni”
Setelah tiga hari berlalu, rasa nyaman di desa
Selalejo kini semakin bertambah. Keluarga baru yang ku kenal sangatlah baik dan
ramah. “The Renol family” menjadi keluarga yang sangat ku rindukan. Hari-hariku
dan sahabat ku Oa Elvi Lein di perlakukan dengan baik dan sangat nyaman. Desa
selalejo memberikan banyak pengetahuan dan juga pelajaran. Banyak hal yang
tidak pernah kami lakukan selama kami belajar di Uniflor Ende dan kami pun
merasakan apa yang masyarakat rasakan. Kami membantu masyarakat Selalejo
membuat bak air. Meskipun sangat melelahkan tetapi dengan tulus dan semangat yang
masih berkobar sehingga saya, dan juga teman-teman bersama para dosen tetap
berlarian mengangkat pasir. Kegiatan ini
berlangsung dari pagi pukul 08.00 sampai sore pukul 15.00. kami pun pulang
menuju rumah bapak kepala desa membantu mayang dan kawan-kawan mempersiapkan
menu makan malam kesenian. Sekitar pukul 17.00 saya bersama Oa Elvi kembali ke
penginapan untuk membersihkan badan dan mempersiapkan diri menjelang malam
kesenian.

Pada malam kesenian, Oa elvi
berperan sebagai master of ceremoy sedangkan saya sebagai salah satu dari empat
orang penari benggong. Yang dipentaskan pada malam kesenian diantara tarian
benggong, puisi berantai, puisi untuk mantan, dance, dan vocal group ojon CS. Sedikitnya
hiburan yang dipersembahkan oleh mahasiswa pendidikan Fisika tetapi tetap
terhibur.
5. Hari
kelima “ paduan suara dan acara perpisahan”
Pada hari yang kelima adalah detik-detik
kebersamaan terakhir bersama masyarakat desa Selalejo. Pada hari ini mahasiswa
pendidikan Fisika mempersembahkan suara yang cukup memuaskan. Meskipun tidak seindah
suara “Agnes Monika” lantunan kasih di persembahkan dengan tulus hati. Paduan suara yang bergema di samping pojok
altar gereja stasi St. Rosario.
Di
desa selalejo juga terdapat sebuah kampung adat yang terletak diatas
ketinggian. Pemandangan sangat indah dan memukau, penduduknya pun ramah dan
baik hati
6. Hari
keenam “kembali ke kota pendidikan, Ende”
Enam hari mahasiswa/mahasiswi
Universitas Flores pendidikan Fisika telah berkiprah di kaki gunung
Ebulobo desa Selalejo, mauponggo, kabupaten Nagekeo. Pada hari ini seluruh rangkaian kegiatan
telah selesai dan waktunya untuk kembali ke kota pendidikan, Ende. Rasa sedih
dan haru menghiruk pikuk suasana hati. Rindu kepada keluarga baru dan juga
saudara tak sedarah, tetapi waktu yang mempertemukan dengan cara mengucapkan
sampai jumpa.
Terima kasih
tak terhingga kepada keluarga yang baru “the Renol Family” dan juga masyarakat
Desa Selalejo. You are the best, you always in my heart.